Kamis, 18 November 2010

KRISTIANA DEWI KUMALASARI

Aku Kenangan
La Ode Gusman Nasiru

bilakah kau berpaling padaku
yang berdebu di sudut koper kayu
mungkin saja kau dapati senyum
sedang menertawai duka itu

sudahkah kau hitung ulang hari ini
tidur sampai senja
dan melihatnya tampak di jendela
lanskap yang tumpah sunyi di mataku
mengeras memudar hilang berganti hitam
membiarkan kejora larut diteduhi malam

ketika kau bangun
kau harap ada sebuah sabtu pagi
menyuguh bening air kelapa muda
dari mawar merah dekat tangga rumah
centil kupu-kupu melepas warna-warna

jika sekarang kau tak menulisi diary
untuk menyisakan sebait puisi
mungkin saja kau akan lupa membacanya kembali; aku
yang akan kau sebut kenangan

Jumat, 14 Agustus 2009


Yang Terhenti
Wa Ode Rizki Adi Putri

Kukira hari ini awal yang sama tahun lalu
Lelaju angin menyapu daun-daun tua
Menampar-nampar kebisuan nyata

Memang berlembar-lembar senja
Terkulai pasrah di tanah
Menunggu waktu menghumusnya

Tapi masih ada lembar harapan
Terkait di ujung longkida
Jatuh mencoba menghalau angin
Menjemput garisnya sendiri
Khayalku ada gadis berkerudung ungu
Dia menyukai helai-helai layu
Menangkapnya di udara dan akan mengingat
“menangkap lembar longkida; 7 September 2010”

Kemudian gerimis kecil meminang hujan
Melindapkan bayangan ke tanah
Basah

Sajakku belum selesai
Keraguanku datang bersama azan
Momen itu hilang sejurus kumandang
Kusimpan separuh puisiku yang masih tercoret
Kutapaki angin rambatkan keluh pada tuhan

Depan C5 FKIP Unhalu, 7-8/9/10


Kepada Ibu
Yuniar

Ibu, bila nanti kusimpan dian
Pada mata senjamu yang jauh
Biarkan kacamatamu berdebu
Di sudut meja bertaplak biru
Kemudian bacakan aku Ar-Rahman berulang-ulang
Seperti sepotong ayatnya yang kusuka
            “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah
            Yang kamu dustakan”
Dan enam tahun lagi aku akan mendengarnya
Dari seseorang yang menjadi muhrimku

Tapi ku mau hanya kau saja
Yang selalu membawakan pagi untukku
Mengusap minyak kayu putih
Kuyakini hangatnya dari jari-jarimu
Sepuluh jari yang mengalah pada waktu

Jika nanti tanggal seharusnya aku pulang
Tunggulah bersama ayah
Di istana pribadi walau hanya dari kayu jati
Kemudian kita akan duduk di teras
Menyaksikan cahaya terakhir matahari
Yang tidak hanya kelihatan di mata

Ibu, temani aku juga
Merasakan angin melagukan bisu
Untuk perubahan awan
Aku sangat suka altocumulus*
Dalam cahaya pagi yang akan lebih cerah

Di sini aku menunggu
Bersama bau debu yang diselubungi sepi
Selalu menohok dinding kerinduanku
Dan angin sore juga membawa kenangan
Dari hitungan waktu lain
Samar-samar terbawa semilir
Setiap lembar kesan terlihat sunyi di mataku
Tapi meramaikan hatiku
Sampai airmataku titik
Puisi ini kupersembahkan untukmu

Kosliwu Kmr 10, 17 Desember 2009

Ode
IA

/1/
Seperti teringat pada janji lama
Aku tak dapat memiliih
Detak jantung berirama

Sinar bulan April yang renta
Juga membentuk dirimu
Menyiram kerinduan di mataku

/2/
Waktu  bulan mulai membayang
Masih ada ruang
Yang pernah dilukisi hujan

Sinar tipis malam ketigapuluh
Membiasi punggung gemawan
Ada selembar rindu yang tersisa
Karena angin telah mengeringkan airmata

Malam itu
Lewat sama-samar keteduhan purnama
Aku masih bisa melihat ke dalam mata cinta

/3/
Sebelum pergi
Kau sempat menoleh padaku
Aku ingin menangis sebenarnya
Karena nanti embun akan menguap
Tapi aku lupa
Bahwa sudah tak ada airmata
Kubiarkan jejakmu mengering
Karena takkan pernah ada hujan
Yang membawa lumpur ke depaan kamarmu

April-Mei 2010


Kristiana Dewi Kumalasari lahir pada tanggal 10 Agustus 1988 ini, sedang sibuk menyusun tugas akhir agar dinyatakan lulus dari Universitas Haluoleo dengan predikat S.Pd. Puisi-puisinya pernah dimuat di harian Kendari Pos, antologi bersama Dari Butuni ke Jembatan Rindu, dan Pagi yang Mendaki Langit. Selain itu, salah satu puisinya pernah meraih juara I lomba tulis puisi pada acara Porsiaf, Unhalu,  2009.

Rabu, 17 November 2010

GALIH

Insiden Merah Jambu
Galih
           
            Toni  dan Murdun adalah dua anak kecil. Keduanya sekelas dan sebangku. Setiap pulang sekolah selalu bersama-sama. Dan hari itu, seperti biasanya saat pulang sekolah, keduanya akan saling bercerita.
            Toni kemudian mulai bercerita tentang tetangga samping rumahnya, Pak Gendut pensiunan polisi yang baik hati. Tapi hari itu, Murdun agaknya sedang tidak tertarik pada cerita Toni, sudah terlalu sering Toni bercerita soal Pak Gendut itu, soal kebaikan-kebaikan hatinya, soal pemberian ini dan itu dan soal wajahnya yang mirip Sinter Clas. Saat Toni sedang bercerita, ia justru menanyakan mengapakah dalam setiap hari Jumat akhir-akhir ini ia jarang melihat Toni di masjid.
            Toni sedikit kecewa juga karena ceritanya terputus dan Toni yang selalu piawai bercerita selalupunya banyak alas an untuk itu. Katanya, Jumat kemarin ketika sedang mandi timbanya jatuh ke dalam sumur. Ia seharusnya segera ke masjid tapi karena takut dimarahi ibu, susah payaj ia mengambil timbanya lagi. Jumat kemarinnya lagi…
            “Masjid itu sudah jauh lebih bagus sekarang”, potong Murdun, “seperti masjid baru. Saya kira sekali kamu ke sana kamu akan betah dan seperti punya sepatu batu kamu akan bertambah rajin ke masjid”.
            Toni menoleh juga pada Murdun. Lanjut Murdun lagi, “temboknya telah dicat seluruhnya, plafonna telah diganti, mimbarnya sudah jauh lebih bagus”.
Toni berpikir-pikir mendengar itu, membayangkan kebaruan masjid itu.
“Ton, lantainya sudah ditehel. Wah, Jumat kemarin ramai benar masjid itu. Teman-teman pada hadir, kamu saja yang tak kulihat”.
Toni agak menyesal tampaknya karena tidak Jumatan dan cerita Murdun soal masjid itu terputus sampai di situ.
Sambil berbaring di tepi-tepi, kini keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sementara itu, ada anjing kurapan menyeberang jalan dan masuk ke dalam gang. Jauh di depan mereka ada penjual es pisang ijo sedang mendorong keretanya. Di atas, matahari mamancarkan cahayanya yang panas.
“Dun, apalagi yang baru di masjid itu”, bilang si Toni tiba-tiba.
Murdun berpikir-pikir, tidak ada tam[aknya. Tpi ia kemudian teringat kotak celengan masjid, suah terlalu tua, mungkin lebih bagus kalau digantidengan yang baru.
“Ton, mungkin kotak celengan masjid perlu diganti, sudah terlalu tua tampaknya. Kalau kamu Jumatan nanti cobalah kau amati, tua sekali. Saying yah, pengurus masjid tidak berpikir menggantinya.
“Ton, bilang Murdun lagi setelah terdiam sesaat lamanya, “Ayahmu ‘kan tukang kayu. Kuara ayahmu pasti mau membuat kotak celengan masjid”.
“Ayahku?” Toni menimbang-nimbang. “Dun, tapi bagaimana kalau sekiranya pengurus masjid memang tidak ingin mengganti kotak celengan masjid itu?”
“Ah pasti maulah. Gantinya kan lebih baru. Mintalah ayahmu membuatnya sebagus mungkin”.
‘Dun, saya tak berani. Ayahku akhir-akhir ini gampang marah-marah. Lagi pula ayahku sedang sibuk membuat banyak lemari”.
Keduanya terdiam lagi.
‘Naaaaaah Ton, kamu ‘kan akrab sama Pak Gendut itu. Tempo hari kamu bilang dia baik hati. Nah, kamu bilang saja sama dia soal kotak celengan masjid, siapa tahu dia mau bantu. Lagi pula menurutku, ayahmu akan menurut sama dia. Kamu ngerti kan maksudku?”
Toni mengangguk dan berpikir-pikir sekejap lalu menyatakan sepekat atas usulan Murdun. Tidak lama kemudian keduanya berpisah. Toni berbelok dan masuk ke dalam lorong, sedang Murdun yang rumahnya lebih jauh terus saja melangkah lurus ke depan.
Keesokan harinya, saat pulang sekolah, keduanya bersama-sama lagi.
“Ton, bagaimana dengan Pak Gendut?”
“Oh itu. Dun, Pak Gendut senang dengan niatan kita. Katanya, kalau sudah punya gantinya serahkan saja ke masjid. Pengurus masjid pasti senang menerimanya. Katanya lagi, kalau kita ragu-ragu, bilang saja kalau kotak celengan itu dari dia”.
‘Bagaimana dnegan ayahmu?”
“Itulah maslahnya Dun. Saya takut-takut juga minta tolong sama Pak Gendut agar menyuruh ayahku membuat kotak celengan masjid”.
Murdun sedikti kecewa tampaknya karena hal yang disampaikan Toni barusan. Keduanya lalu terdiam. Sementara itu, angin berhembus perlahan. Di tepi jalan, di dalam got ada tikus mandi comberan. Toni dan Murdun tidak peduli dengan itu. Dan jauh di depan mereka, ada gadis dipatuk lelaki.
“Dun, bilang Toni tiba-tiba. Dan sorot matanya penuh gairah, “bagaimana kalau kotak celengan saya saja?”
“Kamu punya?”
“Punya. Saya yakin punya saya lebih bagus dan lebih besar daripada kotak celengan masjid”.
Toni kemudian menceritakan bagaimana ia mendapatkan kotak celengan itu. Katanya, pada suatu sore yang kurang istimewa, setelah ia menimba air di sumur, pergilah ia ke rumah tetangganya. Lalu…
Panjang benar ceritanya dan Toni sangat piawai bercerita. Dalam kisah cerita si Toni itu, si Toni sempat melahap habis dua mangkuk bakso. Tiga mangkuk seharusnya tapi semangkuk lagi ia berikan pada seorang anak laki-laki yang kata si Toni mirip wajah Murdun. Murdun tersenyum juga mendengarnya.
Cerita Toni lagi, setelah melahap bakso, seorang yang tak dikenal tiba-tiba mengajaknya keliling kota mengendarai Harley Davidson. Lalu…

Murdun sangat mencermati dan menikmati cerita si Toni itu. Akhir secira si Toni itu ialah bahwa pengendara Harley Davidson itu ternyata adalah teman baik tetangganya yang wajahnya mirip Sinter Clas, Pak Gendut pensiunal polisi itu maksudnya. Nah, kata Pak Gendut, kalau ingin punya Harley, rajin-rajinlah menabung. Pak Gendut lantas menghadiahkan kotak celengan pada si Toni.
“Okelah, “kata si Toni lagi, “nanti Jumat besok kotak celengan itu kubawa ke masjid”.
Keduanya lalu berpisah. Toni berbelok dan masuk ke dalm lorong, sedang Murdun yang rumahnya labih jauh terus saja melangkah lurus ke depan.
Dalam perjalanan sendiri itu, ada kekhawatiran di hati Murdun. Hari Jumat dua hari lagi. Ia khawatir kalau-kalau besok saat pulang sekolah si Toni akan bercerita lagi soal kotak celengan itu. Barangkali mula-mula ia akan bercerita tentang petualangan seekor kuda yang pada akhir ceritanya kotak celengan itu rusak karena disepak kuda. Pandai benar si Toni itu bercerita, pikirnya.
Keesokan harinya saat pulang sekolah, si Toni berkisah lagi. Murdun khawatir mendengarnya. Tapi untunglah hal yang ia khawatirkan itu tidak terjadi. Sebelum berpisah, Murdun mengingatkan Toni besok hari Jumat, jangan lupa kotak celengan itu kau bawa ke masjid, katanya.
Tapi di hari Jumat itu, si Toni ternyata tidak dating ke sekolah. Murdun gelisah. Sepulang sekolah, Murdun hendak mampir ke rumah Toni tapi terpikir olehnya bahwa si Toni barangkali sengaja tidak masuk sekolah karena kotak celengan itu sesungguhnya tidak ada. Si Toni berdusta saja kemarin. Tentu si Tobi akan Jumatan lagi sebentar, pikirnya. Dan Murdun berpikir-pikir lebih baik melupakan saja soal kotak celengan itu.
Keesokan harinya barulah si Toni masuk sekolah lagi.
“Ton, kemarin kau tidak masuk sekolah, kenapa?” Murdun sengaja memancing Toni.
“Aduh, payah Dun. Kemarin itu saya bangun kesiangan. Tapi tak apalah, ayahku memaafkanku, sebab katanya kumimpi indah semalam”.
Berkerut jidat Murdun mendengar itu. Kalau berdusta, si Toni ini memang jagonya, pikirnya.
“Dun, “bilang si Toni lagi, “wah, masjid itu memang lebih bagus sekarang. Tapi Dun, di masjid itu kamu tak kulihat kemarin”.
Murdun terkesiap. “Ton, kamu Jumatan yah kemarin”.
“Iyalah. Kemarin itu saya datang lebih awal di masjid. Saya menunggumu tapi ternyata kamu tak datang-datang. Saya juga membawa kotak celengan itu.
“Sewaktu saya menyerahkan kotak celengan itu, wah… pengurus masjid pada terkejut. Tentu karena kotak saya celengan saya lebih besar dan lebih bagus. Dun, cobalah kau bayangkan, warnanya merah jambu. Tapi saya juga bilang bahwa kotak celengan itu dari Pak Gendut.
“Duh, “bilang lagi si Toni, “hanya saja ketika kotak celengan itu diedarkan, sempat kuperhatikan banyak jamaah yang cemberut, bahkan banyak yang tidak jadi bersedekah.”
Bagaiman mungkin banyak yang tidak jadi bersedekah, piker Murdun. Ah, pandai benar si Toni ini mengada-ada. Tidak, tidaklah juga kemarin itu ia ke masjid barangkali. Dan kalau Jumat depan kotak celengan merah jambu itu tidak ada di masjid, ia akan punya sekarung alas an untuk itu. Dan sekarang pastilah ia akan bercerita panjang lebar soal kotak amal celengan itu.
Dan benarlah yang diperkirakan Murdun. Cerita si Toni, awal-awalnya ia sangat rajin menabung karena ingin punya motor Harley. Anehnya, dari hari ke hari celengan itu bertambah gemuk. Tapi pada suatu ketika ia bangun dari tidurnya, jendela kamarnya sudah terbuka lebar.
“Dun siapa yang membukanya? Besar kemungkinan celengan itu melarikan diri di malam hari, pulang lagi pagi harinya tapi lupa menutup jendela.”
“Dun, “bilang si Toni lagi, “parahnya, celengan babiku kurus lagi. Isinya ludes semua. Sejak itu saya tak ingin menabung lagi.”
Ah, si Toni ini, gerutu Murdun di hatinya. Mana ada celengan babi yang melarikan diri. Tapi Murdun mendadak terkesiap. “Ton, celengan yang kau bawa ke masjid itu, celengan babi yah!”
“Ya, celengan babi sebesar anak babi.”
Pantas banyak jemaah yang tidak bersedekah, pikir Murdun. Ah, tapi benarkah ia ke masjid dengan celengan babinya?
Bilang si Toni lagi, “Dun, soal celengan yang melarikan diri itu kuceritakan pada ayahku. Ayahku tertawa dan kelihatannya ia percaya. Dia bilang padaku bahwa kemungkinan besar celengan babiku melarikan diri ke rumah tuannya, sahabatku Pak Gendut itu, maksudnya.
Ah, si Toni ini, pandai benar ia bercerita, piker Murdun. Dan Murdun kurang percaya sesungguhnya akan cerita si Toni barusan, tapi wajah Toni tampaklah memilukan.
Bilang si Toni lagi, “sempat pula kutanyakan pada Pak Gendut soal celengan babiku.” Si Toni lantas menoleh pada Murdun, raut wajahnya sangat serius. “Dun, Pak Gendut marah-marah dan dia bilang, apakah kau melihat jejak kakinya di muka rumahku?”
Ah, si Toni, piker Murdun, pandai benar ia bercerita. Mana mungkin Pak Gendut bilang begitu. Mana mungkin ia percaya celengan babi bisa begitu.
Tapi raut wajah si Toni tampaklah memilukan. Ada juga kekecewaan terpancar di wajahnya. Ah, Murdun penasaran.
‘Ton, benarkah yang kau ceritkan barusan ini?”
“Ah, Dun, sahut si Toni. Ternyata kamu ini teman yang payah, tidak pernah percaya saya.”

Alolama, Kendari, 9 Juli 2010

Galih lahir di Kendari, 12 Mei. Bergabung dengan Teater Sendiri sejak tahun 1999. Cerpen-cerpennya dimuat di Majalah Horison, Majalah Gong, serta dimuat pada beberapa antologi cerpen, antara lain, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia di Bangka Belitung, 2009, Jalan Menikung ke Bukit Timah. Tahun 2004 bergabung dengan Bengkel Teater Rendra (BTR) dan ikut bermain pada lakon Sobrat.


Senin, 15 November 2010

KENDARI DAN NEGOISASI DIRI


Oleh Wan Anwar (Alm.)

          Perkenalan saya dengan hal ihwal Kendari masih amat terbatas. Dua kali menginjakkan kaki di Kendari (dan Raha) jelas tidak cukup untuk mengenal dan apalagi memahami Kendari (manusia, masyarakat, alam, sejarah, dan kebudayaannya). Meski demikian beberapa kenangan melekat dalam ingatan. Itu cukuplah membuat Kendari menjadi suatu tempat khusus dalam diri saya. Kenangan itu sebagian bersifat pribadi, sebagian lagi menyangkut kemasyarakatan dan kebudayaan.
            Dua kali ke Kendari (sekali bersama rombongan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya, sekali lagi bersama pelukis Herry Dim), masing-masing kurang lebih seminggu, telah mengenalkan saya pada banyak hal. Pengenalan yang paling menyenangkan tentu saja karena mendapati banyak kawan di Kendari yang intens menggeluti kesenian, khususnya teater dan sastra. Entah kenapa jika di suatu kota  mendapati sejumlah orang menggeluti kesenian, hati ini sedikit tenteram. Selalu ada harapan, dengan adanya orang-orang berkesenian, maka “pembangunanisme”, modernisasi, dan gelegak globalisasi sedikit banyak akan “dikontrol”, dikritisi, dan bahkan dinegoisasi sehingga pembangunan tidak melulu berpijak pada percepatan ekonomi dan pembangunan fisik lainnya. Ini penting karena pembangunan seyogyanya mencakupi keutuhan dan keunikan manusia itu sendiri: darah-daging, lahir-batin manusia dan masyarakatnya.
            Jika benar harapan di atas, berarti saya berpandangan bahwa  kesenian  (katakanlah teater dan sastra) adalah suara lain, mungkin ganjil dan kecil, yang memiliki daya untuk bernegoisasi dengan suara (budaya/kuasa) dominan yang seringkali menghegemoni keadaan. Suara dominan antara lain modernisasi atau globalisasi yang datang dari  berbagai penjuru dunia, utamanya semangat kapitalisme dari negara-negara Barat.  Saya katakan “antara lain”, karena suara dominan dapat saja berupa “ideologi pusat” bernama Jakarta, bahkan budaya tradisi yang tidak selalu berisi “kearifan-kearifan lokal”.
            Suara dominan agaknya sudah menjadi “wataknya” sendiri melakukan kooptasi, hegemoni, dominasi yang pada ujungnya “penaklukan” pada suara-suara kecil yang disisihkan. Sebagai manusia/ masyarakat yang pernah mengalami pahit-getirnya penjajahan dunia Barat (kolonialisme), adakalanya kita melestarikan watak kolonial, selain tentu menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan. Sementara itu sebagai bangsa yang lahir dari keragaman budaya, bahkan keragaman kerajaan di masa lampau, tidak jarang kita mewarisi sifat chauvinis (membanggakan masa silam kerajaan/etnisitas) yang gilirannya menumbuhkan rasisme dan penindasan terhadap si liyan (the other). Oleh karena itu setiap suara dominan, dari manapun sumbernya, harus dikritisi bahkan dilawan.
            Dapatkah kesenian, sastra dan teater khususnya, melawan suara dominan? Bukankah kesenian, hampir di manapun dan kapanpun, selalu menjadi suara sunyi yang kesepian? Dengan kata lain tidak dapat mengalahkan non-kesenian, katakanlah politik dan ekonomi?
            Tentu saja kita tidak bicara soal “mengalahkan” melalui kerja kesenian karena ambisi mengalahkan bagian dari sifat penindasan. Kesenian, dengan suara sunyinya, beritikad untuk “menghilangkan” penindasan, sekurang-kuranya suara dominan dapat mempertanyakan kembali dominasinya. Selebihnya, suara dominan akan menghargai suara-suara sunyi terpinggirkan, melakukan interaksi intensif, dan pada gilirannya suara-suara sunyi terpinggirkan mampu turut serta membangun kompleksitas budaya dan masyarakat. Dengan kata lain interaksi suara dominan dan suara-suara terpinggirkan menghasilkan budaya kreatif dan produktif.
            Tapi apa yang saya ketahui tentang Kendari? Suara dominan macam apa yang “menguasai” Kendari? Suara-suara terpinggirkan apa pula yang sedang berinteraksi, bahkan melawan, suara dominan?
            Sekali lagi lagi pengetahuan saya tentang Kendari amat terbatas. Dalam dua kali kunjungan ke kota di Tenggara Sulawesi ini saya hanya tahu bahwa di Kendari ada banyak toko menjual makanan lezat biji jambu mente. Di beberapa titik lokasi teluk Kendari ada komunitas Bajo. Di teluk Kendari ada keramaian malam muda-mudi berkencan, restoran terapung, jalan-jalan lebar lengang di kanan-kirinya melayah hutan bakau, kapal-kapal jet-foil di Pelabuhan Kendari, warung remang-remang dengan musik hingar bingar, pasar Wua-wua di salah satu bagian kota, mini market dan supermarket, restoran-restoran fast-food, warung-warung tenda malam hari menjajakan sea-food, lalu lintas angkot berseliweran dengan mobil-mobil pribadi seperti di banyak kota di Indonesia umumnya, kampus luas tetapi asrama mahasiswanya kurang terurus, perumahan dosen di mana Ahid Hidayat tinggal, perusahaan tambang dan penyeberangan ke Makasar di Kolaka, pelabuhan fery di Tampo yang menghubungkan Kendari dengan Muna dan Buton. Ah apalagi ya? Pengetahuan saya tentang Kendari benar-benar terbatas.
            Kadang menyesal mengapa sewaktu di Kendari tidak banyak “berpetualang” untuk mengetahui kekhasan Kendari. Saya belum sempat secara mendalam bertanya pada kawan-kawan mengenai empat etnis (Tolaki, Muna, Buton, dan Morunene) dominan di Kendari. Saya belum sempat bertanya sejarah, mitos, dan cerita-cerita rakyat Kendari. Saya belum tahu bagaimana lembaga adat menyelesaikan jika ada konflik antar-entnis atau sesama etnis. Meski saya bersyukur sedikit tahu bagaimana caranya orang luar Kendari kalau ingin meminang gadis Kendari.
            Saya berharap bisa datang lagi ke Kendari. Selain untuk mengenal lebih jauh Kendari, saya juga ingin jalan-jalan ke Buton. Dari beberapa buku sejarah dan filologi, kesultanan Buton sering menjadi bahan pembicaraan, terutama dalam kontaknya dengan kerajaan di Makasar, Bima, kerajaan di Jawa dan Sumatera, dan kolonial Belanda
di masa silam. Kontak-kontak yang selain menunjukkan awal modernisasi/ globalisasi, juga kontak-kontak menyangkut negoisasi (perkawinan putra-putri antar-kerajaan misalnya) untuk menghindar konflik dan perang (meski konflik dan perang terjadi juga). Semua itu agaknya penting untuk lebih mengenal, menghayati, dan memahami Kendari.
            Tapi saya beruntung sempat menyeberang ke Raha/ Muna, meskipun saya iri kepada penyair Cecep Syamsul Hari yang begitu tiba di Raha sebuah sajak berjudul “Raha” lahir dari tangannya. Oleh pemilik hotel (hotel yang sebenarnya rumah) di Raha saya diantar ke sebuah desa, malam-malam, untuk melihat kain tenun khas Muna. Pada kedatangan kedua, saya lebih beruntung karena sepanjang malam ditemani Gani, Roy, dan Inal (yang pertama seniman Kendari asal Mandar, yang lainnya seniman Raha) jalan-jalan ke pantai/ pelabuhan Raha. Bersama mereka saya menikmati lampu-lampu neon berderet sepanjang pelabuhan, menikmati debur ombak pelahan, serbuan angin laut, dan kesibukan malam pelabuhan. Mereka bicara banyak tentang Muna, meski sebagian tak terekam dalam ingatan. Mereka bercerita tentang tugu pembatas Raha, tentang kebersahajaan seorang ibu tokoh politik di negeri ini, tentang kontu kowuna (batu berbunga), tentang rencana pembangunan hotel di tepi pantai menjelang PORDA, tentang sumber minyak di bawah tanah Raha, dan tentang penebangan kayu jati yang terus berlangsung hingga kini. 
            Ah kayu jati? Dengan sedih malam itu saya saksikan bagaimana truk-truk mengangkut kayu jati yang sudah diikat rapi dan langsung dimasukkan ke kapal-kapal yang akan menyeberangkannya entah kemana. “Kayu jati Raha kualitasnya nomor wahid,” begitu kata Roy. Saya terhenyak sejenak: kayu jati, nomor wahid! Betul-betul spiritual: kayu jati kayu yang hebat (makanya kita menggunakan ungkapan “jati diri” untuk mengungkapkan etos bangsa) dan wahid bukankah ahad (satu)? Pulau Muna ini pulau yang menyimpan “jati” kualitas ahad! Tentu tak elok jika penggerogotan atasnya (baik alam maupun kebudayaan) di-
biarkan. Pada kesempatan ini saya ingin meminta sesuatu pada Roy dan Inal: jaga pulaumu dengan seluruh dayamu. Dapatkah kesenian berperan dalam hal ini?
            Pada sebuah pagi, Roy dan Inal mengantar saya ke Pasar Raha. Sebuah kehidupan cukup ramai dibandingkan jalan-jalan kota Raha yang lengang dan lebih banyak dilintasi sepeda motor. Wa Ode Erawaty, gadis Raha yang juga menemani, mampu membuat sejuk kota Raha yang panas. Kulitnya yang putih kehitaman seperti kulit roti tak matang di pembakaran: mengingatkan saya pada sebuah film Prancis yang tokohnya (orang kulit putih) ingin berkulit coklat sebagai bentuk negoisasi budaya terhadap tempat tinggalnya: sebuah kota di Amerika Latin, bekas jajahan Prancis!
            Penyeberangan ke Raha (sekali melalui Tampo, sekali lagi melalui pelabuhan Kendari) juga menyimpan kenangan. Dari laut lepas yang tidak terlalu keras ombaknya dapat terlihat bagaimana indahnya tepi-tepi Sulawesi Tenggara. Di selat cempedak ombak memang membuat jantung agak berdetak, tetapi pada saat itulah tercipta sebuah sajak:….jantung berdetak di selat cempedak/ pulau-pulau meminta untuk kudekap/ superjet melaju ke laut biru/  memburu yang kita tuju…(2004)
            Apa yang kita tuju? Siapakah “kita”? Pada saat itu yang ada: saya, Era, dan Gani, selebihnya penumpang lain. Tapi dalam konteks tulisan ini, izinkan saya memaknainya secara lain: apa yang kita tuju dengan berkesenian, entah itu berteater atau bersajak sebagaimana dilakukan kawan-kawan yang dihimpun Teater Sendiri ini?

***
          Betapa senang ketika Syaifuddin Gani mengirim sms kepada saya yang intinya meminta saya mengantari sajak-sajak yang diantologikan menjadi buku Sendiri 3. Buku ini akan diluncurkan/ dibacakan dalam pembukaan Festival Teater Pelajar (FTP) Se-Sulawesi Tenggara dalam rangka 14 tahun Teater Sendiri yang diasuh Achmad Zain, sebuah kelompok teater yang aktif mementaskan garapannya, baik di kota Kendari, Sulawesi Tenggara umumnya, Makasar, Banjarmasin, Samarinda, Surabaya, Yogyakarta, maupun Jakarta. Sesuai namanya, meski mungkin “sendiri”, mereka terus berproses, sebagaimana ditekadkan Achmad Zain melalui sajaknya: Din/ melangkahlah selama kaki kanan/ dan kaki kiri belum menyatu (sajak “Sembilan Anak Tangga”). Ungkapan sederhana yang mengejutkan, sekaligus simbolik mengingat judul “Sembilan Anak Tangga” mengisyaratkan keharusan tuntasnya menempuh perjalanan untuk mencapai tangga sepuluh: dan di puncak tangga ada cahaya membias/ biarkan menerpa wajah kita. Sejenis puncak pencerahan atau spiritual hasil proses perjalanan yang akan menjelmakan “jati diri” para pejalan budaya.
            Pengalaman dua kali menikmati Kendari (dan Raha) ternyata tidak sama dengan pengalaman membaca lebih dari 100 sajak dari 11 penyair dalam buku ini. Itu adalah bukti bahwa Kendari dalam pencerapan saya adalah segugus versi dan Kendari yang direspons/ dihadirkan 11 penyair adalah versi yang lain. Keberagaman pencerapan, juga tafsir, amat tergantung pada pengetahuan dan pengalaman setiap orang, baik secara kuantitatif maupun terutama kualitatif. Setiap individu adalah perspektif dan karena itu akan melahirkan gambar yang beragam. Dari asumsi ini saja sudah muncul keharusan berkomunikasi, bahkan bernegoisasi, dalam merespons hal-ihwal yang hadir baik secara diakronis (perspektif waktu) maupun sinkronis (perspektif ruang). Uraian ini tidak lain sebentuk komunikasi dan negoisasi dalam perspektif ruang dan waktu pencerapan.
Negoisasi budaya niscaya tak terelakkan. Pengalaman-pengalaman pahit di masa silam (sejarah) karena ulah kolonialisme  dan  kenyataan  kini  yang  jauh  dari harapan adalah kontradiksi yang menuntut negoisasi. Sekurang-kurangnya respons bila solusi belum mungkin dilakukan. Lagi pula sajak tidak ada urusan dengan solusi, jika pun ada biarlah pembaca yang bicara. Kontradiksi itu sering membuat para penyair gelisah sebagaimana diungkapkan Syaifuddin Gani dalam “Langit Tak Terjangkau” yang merespons Losari (pantai di Makasar): sepanjang losari/ kau sabdakan cerita-cerita silam/ dan kau tikamkan lagu asing…..dan si mata biru itu/ telah lama berlalu// suatu saat aku akan datang lagi, katanya/ tak lagi memanggul senjata/ tapi mendulang sejarah dan pusaka.
            Negeri ini memang sudah merdeka, tapi apakah betul merdeka sebenar-benar merdeka? Tentu belum. Selain beragam kuasa dari berbagai belahan penjuru dunia terus mengintai, kita juga harus berhadapan dengan para penindas dari negeri dan lingkungan sendiri. Kau lirik dalam sajak di atas bereaksi atas keasingan di kotanya:…kalau kau datang, kuberondong kau/ dengan sebilah siri’/ katamu, sambil pasakkan pagar dan pugar. Cukup tegas bahwa kuasa lokal, mungkin kearifan lokal (siri’) dalam sajak itu dihadapkan pada suara dominan (modernisasi/ globalisasi yang berbau Barat) yang representasinya “anak dara berbaju bodo/ menari di atas panggung” di tengah “kecapi yang merintih dan teriris”.
            Dalam cara berpikir dikotomis atau oposisi biner adalah lumrah bila hitam dihadapkan pada putih, tradisi ditentangkan pada modernisasi. Akan tetapi kuasa dominan tidak selalu datang dari Barat dan tradisi tidak selalu menjadi harapan. Sering muncul kebimbangan dan persoalan di sini. Meski dengan sajak yang anasirnya kurang terjaga, dalam sajak “Kekalahan Dini Hari” Sendri Yakti mengungkapkan persoalan itu: Malam marut, kata-kata mengerucut/ menerobos sejarah yang menggumuh di sudutsudut/ di udara merambat musik bingar, igau yang riuh/ percakapan jadi liat dan menoreh pedih/ sudah kulupa, kapan negeri ini merdeka…. kita berdebat tentang feodal yang kataku belel/ tapi masih kau panggil ayahmu ode/ tak seperti kudecak lidah/ dan memanggil kucingku sultan…
            Dua sajak di atas, meski bukan sajak terbaik dari kedua mereka, melukiskan situasi masyarakat poskolonial, di mana sisa kolonialisme masih mengganjal, modernisasi dan globalisasi tak bisa membuat manusia tentram, tetapi pada saat bersamaan tradisi lokal belum mampu menaungi manusia dalam rasa betah. Kembali ke tradisi lokal belakangan dianggap sebagai jalan untuk menyikapi keadaan. Tentu saja bukan tradisi asal tradisi, melainkan kearifan lokal yang dapat membantu menyelesaikan banyak soal kehidupan dewasa ini yang kian kompleks. Sayangnya seperti diungkapkan Irawan Tinggoa tradisi sebatas ritus belum dapat berbuat banyak. Perhatikan sajak “Ritus Mosehe”, terutama bait terakhir: sepejam mata/ taawu dihunuskan:/ kerbau putih sebagai tumbal/ darahnya bercecer mengusir sesal/ ia lemas telah mengusir tikai/ yang tak padam.
          Di antara penyair dalam buku ini, Irawan Tinggoa menunjukkan hasrat besar merespons banyak soal dengan pendekatan tradisi lokal. Sekurang-kurangnya banyak istilah-istilah lokal dibaurkan ke dalam komposisi sajaknya yang cukup lancar mengalir. Kepekaannya pada momen dan hasratnya untuk “mengucapkan” tradisi berpotensi untuk melahirkan sajak sederhana tetapi mendalam. Responsnya terhadap suasana kota terasa  sederhana dan jenaka: selokan kota gerah berpenuh cena/ di tepi-tepi rumah kumuh membuncah// mengepul bau kemenyan/ menebar aroma kematian// seorang dukun kota/ sesaat meringis diserang bala diare (sajak “Kota”).
          Hiruk pikuk kota siang malam di banyak daerah di negeri ini sering menjadi tema dan kegelisahan para penyair ketika memaknai diri dan kehidupan di sekitarnya. Memang kontradiksi (harapan dan kenyataan berbeda) adakalanya menarik direspons dengan sederhana dan jenaka sebagaimana dilakukan Irawan dalam sajak “Kota” di atas. Lihat pulalah sajak Karmil Edo Sendiri yang berjudul “Gelap”. Sajaknya  yang  merespons  kota dimainkan lincah dengan wacana Edison (penemu listrik) dan Einstein (penemu teori relativitas) dalam ikatan persoalan gelap dan terang keadaan. Bait akhir sajak ini jelas merupakan kritik terhadap perilaku sebagian masyarakat yang suka melakukan “transaksi” di “tempat gelap”.
            Saya tidak tahu apakah di Kendari dan sekitarnya ada tradisi lisan yang mengandalkan kekuatan irama dan bunyi kata. Yang jelas Didit Marshel tampak kuat memainkan irama dan bunyi kata-kata, sebagian mirip pantun bahkan mantra, meski pada sebagian sajak terasa dipaksakan. Kekuatan memainkan irama dan bunyi kata tampak tegas dalam “Negeri Batu” misalnya. Banyak kata batu yang tentu bukan sembarang batu digunakan Didit untuk mengkritisi kehidupan kita sekarang yang memang sudah membatu. Sebuah keadaan yang meminta dipecahkan, oleh sejenis “kapak” (idiom Sutardji Calzoum Bachri) atau oleh benda khas di lingkungan Kendari dan sekitarnya.
            Sajak pada umumnya memang suara lain, suara aneh yang ganjil, yang sunyi dan kesepian, di tengah riuh kota, manusia dan masyarakat batu yang berkata-kata bukan atas kesadaran. Suara penyair dikekalkan dalam kata. Dan kata, sebagaimana diungkapkan Irianto Ibrahim, meski diambil oleh orang tidak akan pernah kehilangan hakikatnya. Bacalah “Sajak untuk Dhani” yang menghidupkan kata-kata dalam permainan dan renungan:…Tetaplah bersama kata/ Biarkan ia tumbuh dan tegak berdiri/ Ketika satu orang mengambil satu daunnya/ tidak berarti ia kehilangan nama pohonnya.
            Kata, itulah harta penyair yang paling berharga. Jika penyair kehilangan kata, habis sudahlah eksistensinya. Itu sebabnya setiap saat penyair bergulat dengan kata. Tentu saja bukan semata bermain sekedar memainkan kata-kata, melainkan menggali kemungkinan kata-kata. Ironisnya sekarang ini penyair hidup di masyarakat yang nyaris kehilangan kata-kata. Benda-benda telah menggantikan komunikasi sehari-hari. Benda-benda merebut posisi kata sebagai citra. Benda-bendalah yang kini menjadi citra: rumah, mobil, handphone, pakaian, dan benda-benda produk industri lainnya. Teater mutakhir di negeri ini, juga di dunia, menyikapi kenyataan ini dengan menghadirkan pergelaran tanpa kata-kata. Teater kembali ke akarnya semula: tubuh dan segala kemungkinan potensi tubuh.
Lalu apa yang akan dilakukan penyair ketika kata telah direbut iklan dan retorika politik? Haruskan kita hanya dan hanya berkawan sunyi sebagaimana diungkapkan Iqbal Oktavian dalam sajak “Bersama Kesunyian”? Atau “kita hanya kuasa/ menunggu kapan saat itu tiba/ di mana waktu berhenti/ dan kita ditagih pertanggungjawaban/ sang waktu (sajak “Perjalanan Waktu” karya Tongis Alamsyah)? Dan karenanya kita tak perlu melakukan apa-apa karena kata yang kita cipta akan sia-sia, karena waktu dan tempat kita berdiam telah melakukan segalanya, dan kita cukup “melekat pada tubuhmu” (sajak “Kota Muna” karya Royan Ikmal”). Dan kemudian alam memberi musibah karena kita melalaikannya seperti diungkapkan Royan Ikmal dalam “Syair Muna yang Terbang”?
Saya kira saya tak perlu pesimis. Meski sajak-sajak para penyair di buku ini lebih banyak menyampaikan gambaran muram, tetapi kesetiaannya untuk terus berkata-kata membuat saya cukup optimis. Kesanggupan mereka bertahan di “negeri batu” dan keriangan mereka “memainkan” kata-kata tentu menambah optimisme saya. Pasti saya akan lebih optimis jika mereka lebih serius belajar membaca dalam pengertiannya yang luas, lebih khusuk mempelajari masa silam dan masa kini, baik di Kendari maupun di luar Kendari.
Masalah penyair tentu bukan sekedar kata-kata. Jika kata-kata itu representasi kehidupan, interaksi kehidupan, dan unsur pembentuk kehidupan, maka persoalan mendasar penyair adalah kehidupan itu sendiri. Menyelami kehidupan tidak selalu harus melulu langsung, melainkan bisa melalui kata-kata para penjelajah kehidupan. Untuk memuliakan  kata-kata,  seorang penyair dapat memulainya dengan serius membaca karya-karya penyair lain dalam bentangan sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra dunia, bahkan sejarah sastra di Kendari dan sekitarnya.
***
Secara jujur harus dikatakan, sejauh terlihat dari sajak-sajak dalam buku ini, pergulatan para penyair selayaknya diintensifkan. Pada sejumlah sajak mereka tidak jarang masih terdapat kelemahan dasar komposisi yang mungkin disebabkan karena belum utuhnya pengalaman puitik, belum pekanya pada kata-kata, belum tajamnya mencipatakan ungkapan segar, atau belum terlatih mengontrol logika imajinasi yang membuat anasir sajak tidak saling mendukung makna atau kegelisahan penyairnya. Adakalanya pula hasrat untuk menyampaikan sesutu terlalu kuat sehingga baris/ bait sajak menjadi pengap oleh kata-kata abstrak.
Menulis sajak barangkali ibarat mendaki puncak. Pada awalnya kita berjalan di keriuhan banyak orang, berkawan kata-kata klise, lalu memasuki kampung-kampung sunyi, pematang-pematang lengang, lembah yang membuat hati gelisah, rumpun-rumpun rimbun di mana hanya ada satu dua orang melintas, menaiki tebing terjal atau licin, berkenalan dengan akar dan juntaian pohon-pohon besar, gelap dan dingin, matahari tak terlihat, bulan entah di mana, hingga akhirnya sampai di puncak setelah pori-pori tubuh meneteskan jutaan keringat.
Atau seperti menuju samudera dengan gelombang tak terkira. Pada mulanya kita bertamasya saja di bibir pantai, berenang di tepian, agak ke tengah dan mulai merasakan gelombang di permukaan dan kedalaman, terus berenang ke tengah hingga akhirnya menyatu dengan samudera di mana segala jenis karang, gelombang, ikan, topan, dan badai lautan menjadi bagian diri dan kehidupan.
Baik dalam mendaki puncak maupun menembus samudera, perkara latihan tentu penting. Akan tetapi keberanian memasuki pahit-getir kehidupan dan kejujuran mengungkapkan kepada orang lain tidak kalah pentingnya. Mungkin kita tidak menjadi apa-apa, tidak menjadi pahlawan atau pujaan, tidak diberi hadiah seperti para pendaki gunung atau peloncat indah dan perenang dalam perlombaan. Akan tetapi kita telah berdialog dengan mereka, dengan yang menjangkau samudera di atas kapal atau melihat puncak dari helikopter: meyakinkan mereka bahwa kata, suara lain yang aneh dan ganjil itu, bisa “sekuasa” benda-benda. Itulah kira-kira negoisasi budaya.
Selamat berulangtahun Teater Sendiri. Karena engkau telah “bernegoisasi” dengan berbagai suara, termasuk suara dominan, di Kendari, percayalah diri engkau tidak akan pernah sendiri. ***              
                                                           Cipocok-Serang, 15 Agustus 2006
                                                                              Pukul 01.16 WIB

Wan Anwar, penyair dan esais. Bekerja sebagai editor di majalah sastra Horison dan sebagai dosen di FKIP Untirta Banten. Bukunya yang sudah terbit: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), dan Kuntowijoyo dan Dunianya (2006). Tinggal di Cipocok-Serang, Banten.


ACHMAD ZAIN

Fana

Kurangkul malam
Kupagut kelam
Kucumbu rembulan

Kusetubuhi waktu
Kulupa usia
Berpeluh gairah
Di ladang nafsu

Sesaat nikmat
Mengikat
Ajal tiada saat

Wuawua-05


Halusinasi
 
air mata
membatu
di rongga
            mulut

telinga
  bising
    memekak
         di ketiak
            dubur

hati
  luluh
     meleleh
           di antara
                   bibir         

tubuh
   rubuh
      menggelepar
            bising memekak
                 air mata
                     luluh meleleh
                         di ketiak bibir

mulut membatu
di rongga dubur
di antara
hati
                       
Wuawua-05


Esa

kupetik rembulan
kusimpan rapi
di peti antik

esok kutengok
bulan bertambah
sembilan bulan
dalam peti
            namun
            cahaya tiada sembilan

Wuawua-05


Hening

Burai asap menari
lewat mulut
lalu
Sepi

Wuawua-05


Waktu
 
Purnama tiada tiba
Sepi menepis ramai
Malam kian kelam
Bintang menantang jalang

        Hasrat berselimut kabut
        Sesaat
        Sabit menggelayut


Wuawua-05


Membelah Malam

Membelah malam
usai menyelam
di pekat kopi
senandung kerikil
tersentuh sepatu kulitmu
mengiring langkahmu
menerobos kelam
mataku enggan berpaling
dari tegar langkahmu
sambil menatap
kepergianmu, dik.

Wuawua, 1 Januari ‘06


Sembilan Anak Tangga

Usai lewati sore di awal ‘06
dengan berjuta cerita di antara dua gelas kopi
buatanmu

Sesekali ada tawa terselip
di kepulan asap 234

Din
di sembilan anak tangga
semua tersimpan rapi
dan di puncak tangga ada cahaya membias
biarkan menerpa wajah kita

Din
melangkahlah selama kaki kanan
dan kaki kiri belum menyatu.

Wuawua, 1 Januari ‘06


Aku Cemeti

Aku cemeti
yang senantiasa
mencambukmu!
entah sampai kapan.

Enyahlah rasa sakit
larut rasa sakit
yang tenang…

Desirku adalah
simponi yang ‘kan
mengiringmu
pada
kemanusiaan hakiki.

Kendari, 2006


Achmad Zain, berawal dari kesendirian, disertai keprihatinan atas kondisi perteateran  di Sulawesi Tenggara, tahun 1992,  Stone - demikian akrab dipanggil - mendirikan Teater Sendiri. Pada awal kiprahnya, kesendirian adalah kawan yang setia menemani perjuangannya. Tak lama kemudian, ada beberapa orang yang bergabung. Ia menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater di Teater Sendiri. Puisinya diantologikan pada Antologi Puisi Teater Sendiri Dengung, Sendiri, Sendiri 2, Malam Bulan Puisi, Pembacaan Sajak Akhir Tahun TS-2005 (Teater Sendiri), Antologi Wasi Taman Budaya Banjarmasin. Membawa Teater Sendiri yang dibinanya pada berbagai event di Indonesia dalam Temu Teater Katimuri I, II, III dan Palu Indonesia Dance Forum. Pentas Teater Keliling di Surabaya, Solo, Yogyakarta, Jakarta.